DENDAM, pantaskah disimpan??

Banyak hal yang seharusnya kita renungkan, gag tiap manusia itu bisa menyenangkan, dan gag ada manusia yang sempurna, banyak hal yang bikin kita gag selalu bisa menerima apa yang orang lakuin ke kita, dari mulai sengaja, ataupun gag.

Gag sedikit hal yang bikin kita benci pada seseorang, tapi pantaskah benci yang berkelanjutran bikin hidup kita lebih gag indah dari orang yang kita benci??

jawabannya “GAG”!!

makanya, kita harus mampu ngilangin smua dendam itu!!

ayo berusaha!!

aku punya bahan renungan, silahkan di baca dan diamalkan..

 

1) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan umat beliau untuk menyimpan rasa dendam. Kita harus belajar “mengikhlaskan” apa yang telah lewat/terjadi, dengan menganggap sekadar sebagai pelajaran atau mampu mengambil hikmah dari kejadian sebelumnya.

(2) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa “sayang” dan “benci” diperbolehkan hanya karena Allah subhanahu wata’ala.

(3) Sebenarnya orang lain tidak akan mampu “menyakiti hati” kita (atau tidak akan mampu menyentuh kita) apabila kita tidak mudah merasa disakiti. Diakui bahwa usia seseorang menentukan hal ini. Dengan makin bertambah usia seseorang, semestinya makin bijak dia dalam menyikapi aksi dari orang lain.

(4) Allah subhanahu wata’ala mengajarkan bahwa kita “boleh (berhak) membalas setimpal/ sepadan (tidak diperbolehkan melebihi)” dengan apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Namun, kita diharapkan “memaafkan “orang tersebut karena itu sikap yang mulia. Memaafkan adalah tindakan yang “berpahala”. Dia mengajarkan “kemuliaan lahir dan batin” kepada umatnya. Inilah “akhlak mulia” yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan teladan sepanjang hidup beliau.

(5) Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar “mendoakan orang yang mendhalimi kita” agar Allah subhanahu wata’ala memberinya petunjuk. Diakui bahwa sikap ini tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang, kecuali mereka yang telah berlatih keras dalam “menata hati”. Bagaimana pun kita perlu terus melatih diri agar mampu melakukannya.

(6) Apabila kita mampu memaafkan kesalahan orang lain dan mampu mendoakan kebaikan bagi orang tersebut, maka “sakit hati, benci, dendam”, dan semacamnya insyaAllah akan hilang dari dalam hati. Sesungguhnya, memendam perasaan seperti ini hanya menyebabkan “penyakit hati/kejiwaan”. Kita tidak patut menyimpan penyakit ini di dalam hati karena akan menyebabkan berbagai “kerusakan bagi diri sendiri maupun orang lain”. “Ketenangan, ketenteraman, kedamaian”, dan semacamnya tidak akan kita peroleh selama kita menyimpan perasaan seperti ini.

(7) Kita perlu belajar “menyayangi orang lain” sebagaimana kita menyayangi diri sendiri. Bukankah Allah subhanahu wata’ala tetap menyayangi kita walaupun selalu salah?

(8) Kita harus banyak-banyak (bahkan mengusahakan agar terus-menerus) “beristighfar”. Ini “langkah awal bagi segala kebaikan” yang Allah subhanahu wata’ala berikan kepada kita. Artinya, kita harus selalu “mengaku telah melakukan dosa-dosa” dan kemudian “memohon ampunan-Nya”. Jikalau Dia tidak mengampuni kita, maka tidak ada siapa pun yang mampu mengampuni kita.

(9) Allah subhanahu wata’ala mempunyai catatan setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh setiap orang. Biarlah Dia yang membuat perhitungan sendiri kepada orang yang mendhalimi kita. Biarlah Dia sendiri (dan bukan kita) menegur/mengingatkan orang tersebut. “Teguran/peringatan-Nya” dapat berupa apapun. Kecuali jika subhanahu wata’ala mengampuni kesalahan orang tersebut. Tetapi ini bukan urusan kita. Kita harus ingat bahwa “tidak ada perbuatan di dunia ini yang tidak berbalas”. Istilah “karma” berasal dari luar Islam.

(10) Tidak ada “kesalahpahaman” yang berasal semata-mata dari salah satu pihak karena pasti “ada andil dari dua belah pihak”. Yang berbeda hanya kadar penyebabnya dari masing-masing pihak tersebut. Dengan kata lain, pasti kita punya andil dalam kesalahpahaman tersebut. Oleh karena itu, kita wajib meminta ampun kepada Allah subhanahu wata’ala dan wajib “meminta maaf kepada orang lain” atas (andil) kesalahan kita. Boleh jadi pada waktu itu, kita belum menyadari ataupun bahkan belum mengakui kesalahan kita.

(11) Jika Allah subhanahu wata’ala berkehendak, orang yang terbiasa mendahalimi orang lain dapat saja menyadari kesalahannya, bertaubat, lalu berubah menjadi orang baik. Hanya Dia yang Mahatahu apa yang bakal terjadi.

(12) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk selalu “berbaik sangka” (berpikir positif), selalu memiliki semangat tinggi untuk menghadapi masa depan, dan bukan terkurung pada masa lalu.

(13) Kita sangat perlu membaca buku-buku tentang perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama-ulama yang mengikuti jalan beliau-beliau tersebut. Dengan demikian, kita harus pintar “memetik hikmah keteladanan” beliau-beliau tersebut guna kita “terapkan dalam kehidupan keseharian” kita.

(14) Setiap muslimin/muslimat wajib “mengaji dan mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah” karena merupakan pedoman hidup. Kedua pedoman inilah yang menuntun akhlak/keluhuran budi kita. Marilah kita buktikan bahwa umat Islam lebih luhur budi dibandingkan umat lainnya. Marilah kita wujudkan “Islam sengaja diturunkan ke dunia untuk menjadi rahmat (kasih-sayang, anugerah) bagi seisi alam”, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala telah jelas-jelas menyatakan dalam kitab-Nya nan Mulia.

(15) Secara ringkas, yang perlu dilakukan ialah “melatih diri terus-menerus” (mestinya selama bertahun-tahun) agar mampu untuk antara lain: a. selalu mengikhlaskan segala yang telah terjadi dan menjadikannya pelajaran; b. siap meminta maaf atas kesalahan kita kepada orang lain; c. siap memaafkan kesalahan orang lain kepada kita; d. selalu memohon ampun atas dosa kita, yang telah dan akan kita lakukan; e. selalu mendoakan kebaikan bagi diri kita sendiri maupun segenap muslimin/muslimat, termasuk orang yang mendhalimi kita; f. selalu menyayangi orang lain; g. selalu berbaik sangka; h. selalu melihat ke masa depan dan tidak terkurung pada masa lalu. Itulah obat bagi kebersihan hati yang terkotori oleh berbagai perasaan yang menyakitkan. Maaf, saya tidak mengutip dalil/dasar hukum. Saya sekadar memudahkannya untuk dicerna. Saudariku Dewi dapat mencari sendiri pada situs web http://www.almanhaj.or.id Assunnah, dan situs-situs bermanhaj salaf lain yang banyak tersedia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi kemudahan kepada kita agar mampu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya penyebab kebaikan bagi sesama. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Abu Farhan dikutip http://www.mail-archive.com/ assunnah@yahoogroups.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it /msg15545.html

3 responses to “DENDAM, pantaskah disimpan??

  1. mosok gag ada yg komen sih??
    y ela…hoho

    gpp deh, komen sendiri ajah!! hoho

  2. beibh…. ini aku kasi komen…
    aku kangen bgt ma kamu, beibh…

    kamu udh pandai ceramah di blog sekarang ya….
    salut lah buat kamu…

  3. Q bkn nabi dan allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s